PERTEMUAN KE 8
Selasa, 6 Mei 2014
- Sejarah Lahir dan Karyanya
Nama
lengkap Ibnu Sina adalah Abu ‘Ali Al – Husain ibnu ‘Abd Allah ibn Hasan ibnu
‘Ali ibn Sina. Di barat populer dengan sebutan Avicenna akibat terjadinya
metamorfose Yahudi – Spanyol – Latin. Ibnu Sina dilahirkan di Afsyana dekat
Bukhara pada tahun 980 M dan meninggal dunia pada tahun 1037 M dalam usia 58
tahun. Ibnu Sina sejak muda telah menguasai beberapa disiplin ilmu, seperti
matematika, logika, fisika, kedokteran, astronomi, hukum dan lainnya, bahkan
dalam usia sepuluh tahun Ia telah hafal Alquran seluruhnya. Usia 17 tahun Ia
telah memahami seluruh teori kedokteran yang ada pada saat itu dan melebihi
siapa pun juga. Karena kepintarannya ini, Ia diangkat sebagai konsultan dokter
– dokter praktisi. Guru yang mendidiknya adalah Abu ‘Abd Allah Al – Natili dan
Ismail sang Zahid. Karena kecerdasan otaknya yang luar biasa, Ia dapat
menguasai semua disiplin ilmu. Ibnu Sina adalah filosof murni pertama karena
Ibnu Sina tidak mempunyai guru dan Ia belajar filsafat hanya dengan membaca
buku.
Atas
keberhasilan Ibnu Sina dalam mengembangkan pemikiran filsafat sehingga dapat
dinilai bahwa filsafat di tangannya telah mencapai puncaknya dan karena
prestasinya itu, Ia berhak memperoleh gelar kehormatan dengan sebutan al
Syikh al – Ra’is (Kiyahi Utama).
- Karya Tulisnya
Diantara
karya tulisnya yang terpenting, yakni sebagai berikut:
1.
Al –
Syifa, berisikan
uraian tentang filsafat yang terdiri atas bagian : ketuhanan, fisika,
matematika, dan logika.
2.
Al –
Najat, berisi
ringkasan dari kitab al – Syifa. Karya tulis ini ditujukannya khusus
untuk kelompok terpelajar yang ingin mengetahui dasar – dasar ilmu hikmah
secara lengkap.
3.
Al –
Qanun fi al – Thibb, berisikan
ilmu kedokteran yang terbagi atas lima kitab dalam berbagai ilmu dan berjenis –
jenis penyakit dan lainnya.
4.
Al –
Isyarat wa al – Tanbihat,isinya
mengandung uraian tentang logika dan hikmah.
- Filsafatnya
- Al – Tawfiq (Rekonsiliasi) antara agama dan filsafat
Ibnu
Sina mengusahakan pemaduan antara agama dan filsafat. Menurutnya nabi dan
filosof menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni Malaikat Jibril yang
juga disebut Akal Kesepuluh atau Akal Aktif. Perbedaannya hanya terletak pada
cara memperolehnya. Bagi nabi terjadinya hubungan dengan Malaikat Jibril
melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci, qudsiyyat).
Sedangkan filosof melalui Akal Mustafad.
Ibnu
Sina juga memberikan ketegasan tentang perbedaan antara para nabi dan para
filosof. Mereka yang disebut pertama, menurutnya adalah manusia pilihan Allah
dan tidak ada peluang bagi manusia lain untuk mengusahakan dirinya menjadi
nabi. Sementara itu, mereka yang disebut kedua adalah manusia yang mempunyai
intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi nabi.
Dalam
pandangan Ibnu Sina, para nabi sangat diperlukan bagi kemaslahatan manusia dan
alam semesta. Hal ini disebabkan para nabi dengan mukjizatnya yang dapat
dibenarkan dan diikuti manusia. Dengan kata lain, kebenaran yang disampaikan
nabi seperti adanya hari akhirat dan lain – lain dapat diterima dan dibenarkan
manusia baik secara rasional maupun secara syar’i.
- Ketuhanan
Ibnu
Sina dalam membuktikan adanya Tuhan (isbat wujud Allah) dengan dalil wajib
al – wujud dan mumkin al – wujud mengesankan duplikasi Al – Farabi
yakni sebagai berikut:
- Wajib al – wujud, esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Disini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu.
- Mumkin al – wujud, esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan istilah lain, jika Ia diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka Ia tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada.
- Mumtani’ al – wujud, esensi yang tidak dapat mempunyai wujud, seperti adanya sekarang ini juga kosmos lain di samping kosmos yang ada.
Ibnu
Sina berusaha mengesakan Allah semutlak – mutlaknya dan Ia juga memelihara
kesempurnaan Allah. Jika tidak demikiran, tentu ilmu Allah Yang Mahasempurna
akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada
esensi manusia.
- Emanasi
Tabel emanasi
Ibnu Sina di bawah ini:
|
Akal
yang ke
|
sifat
|
Allah
sebagai Waib al – wujud menghasilkan
|
Dirinya
sendiri sebagai Wajin wujad li gharihi menghasilkan
|
Dirinya
sendiri mumkin wujud lizathihi
|
Keterangan
|
|
I
|
Wajib
al - wujud
|
Akal
II
|
Jiwa
I yang menggerakan
|
Langit
pertama
|
Masing
– masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet karena (immateri) tidak
bisa langsung menggerakan jisim (materi)
|
|
II
|
Mumkin
al – wujud
|
Akal
III
|
Jiwa
II yang menggerakan
|
Bintang
– bintang
|
|
|
III
|
Sda
|
Akal
IV
|
Jiwa
III yang menggerakan
|
Saturnus
|
|
|
IV
|
Sda
|
Akal
V
|
Jiwa
IV yang menggerakan
|
Yupiter
|
|
|
V
|
Sda
|
Akal
VI
|
Jiwa
V yang menggerakan
|
Mars
|
|
|
VI
|
Sda
|
Akal
VII
|
Jiwa
VI yang menggerakan
|
Matahari
|
|
|
VII
|
Sda
|
Akal
VIII
|
Jiwa
VII yang menggerakan
|
Venus
|
|
|
VIII
|
Sda
|
Akal
IX
|
Jiwa
VIII yang menggerakan
|
Merkurius
|
|
|
IX
|
Sda
|
Akal
X
|
Jiwa
IX yang menggerakan
|
Bulan
|
Akal
X tidak lagi memancarkan akal – akal berikutnya karena kekuatannya sudah
lemah.
|
|
X
|
Sda
|
-
|
Jiwa
X yang menggerakan
|
Bumi,
roh materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur (udara, api, air dan
tanah)
|
- Jiwa
Secara garis
besarnya, pembahasan Ibnu Sina tentang jiwa terbagi pada dua bagian berikut:
- Fisika, membicarakan tentang jiwa tumbuh – tumbuhan, hewan dan manusia.
1.
Jiwa
tumbuhan memiliki 3 daya : makan, tumbuh dan berkembang biak.
2.
Jiwa
binatang mempunyai 2 daya : gerak (al – mutaharrikat) dan menangkap (al
– mudrikat). Daya yang terakhir ini terbagi menjadi dua :
a.
Menangkap
dari luar dengan pancaindera
b.
Menangkap
dari dalam dengan indera – indera batin yang terdiri dari 5 indra yaitu Indera
bersama, Indera al – khayyal,Imajinasi, Indera wahmiyah, Indera
pemeliharaan.
3.
Jiwa
manusia, yang disebut juga al – nafs al – nathiqat mempunyai dua daya :
praktis dan teoritis. Daya praktis hubungannya dengan jasad, sedangkan daya
teoritis hubungannya dengan hal – hal yang abstrak. Daya teoritis ini memiliki
empat tingkatan :
a.
Akal
Materiil, yang semata – mata mempunyai potensi untuk berpikir dan belum dilatih
walaupun sedikit.
b.
Akal
al – malakat yang telah dapat
berpikir tentang hal – hal abstrak.
c.
Akal
Aktual, yang telah dapat berpikir tentang hal – hal abstrak.
d.
Akal
Mustafad, akal yang telah sanggup berpikir tentang hal – hal abstrak tanpa
perlu daya upaya.
- Metafisika membicarakan tentang hal – hal berikut :
- Wujud jiwa
Dalam
membuktikan adanya jiwa, Ibnu Sina mengemukakan empat dalil berikut:
a.
Dalil
alam kejiwaan, dalil ini didasarkan pada fenomena gerak dan pengetahuan.
b.
Konsep
“aku” dan kesatuan fenomena psikologis. Dalil ini oleh Ibnu Sina didasarkan
pada hakikat manusia.
c.
Dalil
kontinuitas. Dalil ini didasarkan pada perbandingan jiwa dan jasad.
d.
Dalil
manusia terbang atau manusia melayang di udara. Dalil ini menunjukan daya
kreasi Ibnu Sina yang sangat mengagumkan.
- Hakikat jiwa
Untuk mendukung
pendapatnya Ibnu Sina mengemukakan beberapa argumen berikut:
- Jiwa dapat mengetahui objek pemikiran dan ini tidak dapat dilakukan oleh jasad.
- Jiwa dapat mengetahui hal – hal yang abstrak dan juga zatnya tanpa alat.
- Jasad atau oragannya jika melakukan kerja berat atau berulang kali dapat menjadikan letih bahkan dapat menjadi rusak. Sebaliknya jiwa jika dipergunakan terus menerus berpikir tentang masalah besar dan tidak dapat membuatnya lemah.
- Jasad dan perangkatnya akan mengalami kelemahan pada waktu usia tua. Sebaliknya jiwa atau daya akan semakin kuat kecuali Ia sakit.
- Hubungan jiwa dengan jasad
Menurut
Ibnu Sina, selain eratnya hubungan antara jiwa dan jasad, keduanya juga saling
memengaruhi atau saling membantu. Jasad adalah tempat bagi jiwa, adanya jasad
merupakan syarat mutlak terciptanya jiwa. Dengan kata lain, jiwa tidak akan
diciptakan tanpa adanya jasad yang akan ditempatinya.
- Kekekalan jiwa
Menurutnya,
jiwa manusia berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang hancur dengan hancurnya
jasad. Jiwa manusia akan kekal dalam bentuk individual yang akan menerima
pembalasan di akhirat. Dalam menetapkan kekalnya jiwa, Ibnu Sina mengemukakan
tiga dalil berikut:
- Dalil al – infishal , yaitu perpaduan antara jiwa dan jasad bersifat aksiden, masing – masing unsur mempunyai subtansi tersendiri, yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
- Dalil al – basahat yaitu jiwa adalah jauhar rohani yang hidup selalu dan tidak mengenal mati.
- Dalil al – musyabahat yaitu dalil ini bersifat metafisika. Jiwa manusia sesuai dengan filsafat emanasi, bersumber dari Akal Fa’al sebagai pemberi segala bentuk.
Uraian
diatas mengisyaratkan bahwa Ibnu Sina menempatkan jiwa manusia pada peringkat
yang paling tinggi. Di samping sebagai dasar berpikir, jiwa manusia juga
mempunyai daya – daya yang terdapat pada jiwa tumbuhan dan hewan.
Sumber :
Zar,Sirajuddin.2004.Filsafat Islam:Filosof dan Filsafatnya.Jakarta:PT.
Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar