Kamis, 01 Mei 2014

IBNU MISKAWAIH



PERTEMUAN KE 6
Selasa, 29 April 2014
  1. Riwayat Hidup dan Karyanya
Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ya’cub ibnu Miskawaih. Ia dilahirkan di kota Rayy, Iran pada tahun 330 H/941 M dan wafat di Asfahan pada 9 Shafar 421 H/ 16 Februari 1030 M. Ibnu Miskawaih seorang penganut Syiah. Disiplin ilmunya meliputi kedokteran, bahasa, sejarah, dan filsafat. Akan tetapi Ia lebih populer sebagai seorang filosof akhlak ketimbang filosof  Ketuhanan. Agaknya Ia dimotivasi oleh situasi masyarakat yang sangat kacau di masanya, seperti minumankeras, perzinaan dan lainnya.

  1. Karya Tulisnya
Dalam buku The History of the Muslim Philosophy disebutkan beberapa karya tulisnya, yaitu:
1.      Al – Fauz al – Akbar
2.      Al – Fauz al – Asghar
3.      Tajarib al – Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulisnya pada tahun 369 H/979 M)
4.      Uns al – Farid (koleksi anekdot, syair, peribahasa dan kata – kata hikmah)
5.      Tartib al – Sa’adat (isinya akhlak dan politik)
6.      Al – Mustaufa (isinya syair – syair pilihan)
7.      Jawidan Khirad (koleksi ungkapan bijak)
8.      Al – Jami
9.      Al – Siyab
10.  On the Simple Drugs (tentang kedokteran)
11.  On the Composition of the Bajats (seni memasak)
12.  Kitab al – Ashribah (tentang minuman)
13.  Tahzib al – Akhlaq (tentang akhlak)
14.  Risalat fi al – Lazzat wa al – Alam fi Jauhar al – Nafs
15.  Ajwibat wa As’ilat fi al – Nafs wa al – ‘Aql
16.  Al – Jawab fi al – Masa’il al – Salas
17.  Risalat fi Jawab fi Su’al Ali ibn Muhammad Abu Hayyan al – Shufi fi haqiqat al – ‘Aql
18.  Thaharat al – Nafs

  1. Filsafatnya
  1. Ketuhanan
Tuhan menurut Ibnu Miskawaih adalah zat yang tidak berjisim, Azali dan Pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan – Nya. Ia ada tanpa diadakan dan ada – Nya tidak bergantung kepada yang lain.
  1. Emanasi
Ibnu Miskawaih juga menganut paham emanasi yaitu Allah menciptakan alam secara pancaran. Namun emanasinya berbeda dengan emanasi Al – Farabi. Menurutnya entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah ‘Aql Fa’al (Akal Aktif). Akal aktif ini perantara sesuatu pun. Ia Kadim, Sempurna dan tak berubah. Dari Akal Aktif ini timbul jiwa dan dengan perantaraan jiwa pula timbul planet. Pelimpahan atau pemancaran yang terus – menerus dari Allah dapat memelihara tatanan di dalam alam ini.
Perbedaan emanasi antara Ibnu Miskawaih dengan Al – Farabi adalah sebagai berikut:
  1. Bagi Ibnu Miskawaih, Allah menjadikan alam ini secara emanasi dari tiada menjadi ada. Sementara itu, menurut Al – Farabi alam dijadikan Tuhan secara pancaran dari sesuatu atau bahan yang sudah ada menjadi ada.
  2. Bagi Ibnu Miskawaih ciptaan Allah yang pertama ialah Akal Aktif. Sementara itu, bagi Al – Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah Akal pertama dan Akal Aktif adalah Akal yang Kesepuluh.

  1. Kenabian
Menurut Ibnu Miskawaih, nabi adalah seorang Muslim yang memperoleh hakikat – hakikat atau kebenaran karena pengaruh Akal Aktif atas daya imajinasinya. Hakikat atau kebenaran seperti ini diperoleh pula oleh para filosof. Perbedaannya hanya terletak pada teknik memperolehnya. Filosof mendapatkan kebenaran tersebut dari bawah ke atas, yakni dari daya indrawi menaik ke daya khayal dan menaik lagi ke daya berpikir yang dapat berhubungan dan menangkap hakikat – hakikat atau kebenaran dari Akal Aktif. Sementara itu, nabi mendapatkan kebenaran diturunkan langsung dari atas ke bawah yakni dari Akal Aktif langsung kepada nabi sebagai rahmat Allah. Dari situ, sumber kebenaran yang diperoleh nabi dan filosof adalah sama, yaitu Akal Aktif. Pemikiran ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Al – Farabi sebelumnya.
  1. Jiwa
Jiwa menurut Ibnu Miskawaih, adalah jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad. Ia adalah kesatuan yang tidak terbagi – bagi. Ia akan hidup selalu. Ia tidak dapat diraba dengan pancaindra karena Ia bukan jisim dan bagian dari jisim. Jiwa dapat menangkap keberasaan zarnya dan Ia mengetahui ketahuan dan keaktivitasannya. Arguman yang dimajukannya ialah jiwa dapat menangkap bentuk sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan, seperti warna hitam dan putih, sedangkan badan tidak dapat demikian.
  1. Akhlak
Akhlak menurut konsep Ibnu Miskawaih ialah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan. 
Sumber : Sirajuddin Zar.2004.Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya.Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar