Kamis, 03 April 2014

AL – KINDI



  1. Sejarah Hidup dan Karyanya
Al – Kindi nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’cub ibnu Ishaq ibnu Al – Ahabbah ibnu Imran ibnu Muhammad ibnu Al – Asy’as ibnu Qais Al – Kindi. Al – Kindi dilahirkan di Kuffah sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya terhormat. Kakek buyutnya Al – Asy’as ibnu Qais adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang gugur sebagai syuhada bersama Sa’ad ibnu Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum Muslimin dengan Persia di Irak. Al – Kindi sangat tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu,oleh karena itu tidaklah heran Ia dapat menguasai ilmu astronomi, ilmu ukur, ilmu alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik, meteorologi, optika, kedokteran, matematika, filsafat dan politik.
Penguasaannya terhadap filsafat dan disiplin ilmu lainnya telah menempatkannya menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para filosof terkemuka, karena itulah dirinya pantas menyandang gelar Failasuf al – ‘Arab ( filosof berkebangsaan Arab).

  1. Karya Tulisnya
Sebagai penerjemah terkemuka, tidaklah aneh sekiranya Ia mendapat penghargaan dari Khalifah Al – Ma’mun yang terkenal cintanya pada filsafat dan sains. Menurut informasi, Al – Ma’mun membayar siapa saja yang sanggup menerjmahkan buku – buku ke dalam bahasa Arab dengan emas seberat buku yang diterjemahkan. Selain itu ia juga termasuk seorang yang kreatif dan produktif dalam kegiatan tulis menulis. Akan tetapi amat disayangkan kebanyakan karya tulisnya telah hilang sehingga sulit menjelaskan berapa jumlah karya tulisnya.
Menurut Georger Atiyeh, karya – karya tulis Al – Kindi dalam berbagai bidang ilmmu pengetahuan mencapai 270 risalah. Risalah – risalah itu baik oleh Ibnu Nadim maupun Qifthi dikelompokkan dalam 17 kelompok yaitu :
1.      Filsafat
2.      Logika
3.      Ilmu hitung
4.      Globular
5.      Musik
6.      Astronomi
7.      Geometri
8.      Sperikal
9.      Medis
10.  Astrologi
11.  Dialektika
12.  Psikologi
13.  Politik
14.  Meteorologi
15.  Dimensi
16.  Benda – benda pertama
17.  Spesies tertentu logam dan kimia

Untuk lebih jelasnya dibawah ini dikemukakan beberapa karya tulis Al – Kindi:
  1. Fi al – falsafat al – Ula
  2. Kitab al – Hassi ‘ala Ta;allum al – Falsafat
  3. Risalat ila al – Ma’mun fi al – ‘illat wa Ma’lul
  4. Risalat fi Ta’lif al – A’dad
  5. Kitab al – Falsafat al – Dakhilat wa al – Masa’il al – Manthiqiyyat wa al – Mu’tashah wa ma Fauqa al – Thabi’iyyat
  6. Kammiyat Kutub Aristoteles
  7. Fi al – Nafs
  1. Pemaduan Filsafat dan Agama
       Al – Kindi berpendapat bahwa pemaduan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan yaitu:
  1. Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
  2. Wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian
  3. Menuntut ilmu, secara logika diperintahkan oleh agama
     Al – Kindi juga mengungkapkan argumennya kepada orang – orang agama yang tidak senang terhadap filsafat dan filosof. Jika ada orang yang mengatakan bahwa filsafat tidak perlu, mereka harus memberikan argumen dan menjelaskannya. Untuk sampai pada yang dimaksud, secara logika mereka perlu memiliki pengetahuan filsafat. Kesimpulannya bahwa filsafat harus dimiliki dan dipelajari.
Dalam tulisannya Kammiyat Kutub Aristoteles, Al – Kindi mengemukakan beberapa perbedaan filsafat dan agama sebagai berikut:
  1. Filsafat adalah ilmu kemanusiaan yang dicapai oleh filosof dengan berpikir, belajar dan usaha – usaha manusiawi. Sedangkan agama adalah ilmu  ketuhanan yang menempati peringkat tertinggi karena diperoleh tanpa proses belajar, berpikir dan usaha manusiawi, melainkan hanya dikhususkan bagi para rasul yang dipilih Allah dengan menyucikan jiwa mereka dan memberinya wahyu.
  2. Jawaban filsafat menunjukkan ketidakpastian (semu) dan memerlukan pemikiran. Sementara itu agama (alquran) jawabannya menunjukkan kepastian dan tidak memerlukan pemikiran.
  3. Filsafat menggunakan metode logika sedangkan agama menggunakan metode keimanan.

  1. Filsafat Ketuhanan
     Tulisan Al – Kindi yang membicarakan ketuhanan antara lain Fi al Falsafat al – Ula dan Fi Wahdaniyyat Allah wa Tanahi Jirm al – ‘Alam. Dari tulisan tersebut dapat dilihat bahwa pandangan Al – Kindi tentang ketuhanan sesuai dengan ajaran Islam dan bertentangan dengan pendapat Aristoteles, Plato dan Plotinus.
Benda – benda yang ada di alam ini menurut Al – Kindi mempunyai dua hakikat yaitu hakikat sebagai juz’i (al – haqiqat jus’iyyat) yang disebut ‘aniah dan hakikat sebagai kulli (al – haqiqat kulliyat) dan ini disebut mahiah, yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus (jins) dan species (nau’).
Dalam membuktikan adanya Allah, Al – Kindi memajukan tiga argumen:
  1. Baharunya alam. Alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya yakni Allah.
  2. Keanekaragaman dalam wujud. Terjadinya keanekaragaman dan keseragaman ini bukan secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan atau merancangnya.
  3. Kerapian alam. Tidak mungkin alam teratur dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur atau mengendalikannya.
  1. Alam
         Dalam risalahnya yang berjudul  al – Ibanat ‘an al – ‘ illat al – Fa’illat al – Qaribat fi kawn wa al – Fasad, pendapat Al – Kindi sejalan dengan Aristoteles bahwa benda di alam ini dapat dikatakan wujud yang aktual apabila terhimpun empat ‘illat yakni:
  1. Al – ‘Unshuriyyat (materi benda)
  2. Al – Shuriyyat (bentuk benda)
  3. Al – Fa’ilat (pembuat benda)
  4. Al – Tamamiyyat (manfaat benda)
Lebih lanjut, Al – Kindi mengemukakan beberapa argumen dalam menetapkan baharunya alam :
  1. Semua benda yang homogen, yang tiada padanya lebih besar ketimbang yang lain, adalah sama besar.
  2. Jarak antara ujung – ujung dari benda yang sama besar, juga sama besarnya dalam aktualitas dan potensialitas.
  3. Benda – benda yang mempunyai batas tidak bisa tidak mempunyai batas.
  4. Jika salah satu dari dua benda yang sama besarnya dan homogen ditambah dengan homogen lainnya, maka keduanya menjadi tidak sama besar.
  5. Jika sebuah benda dikurangi, maka besar sisanya lebih kecil dari pada benda semula.
  6. Jika satu bagian diambil dari sebuah benda, lalu dipulihkan kembali kepadanya, maka hasilnya adalah benda yang sama seperti semula.
  7. Tiada dari dua benda homogen yang besarnya tidak mempunyai batas bisa lebih kecil ketimbang yang lain.
  8. Jika benda – benda yang homogen yang semuanya mempunyai batas ditambahkan bersama, maka jumlahnya juga akan terbatas.
Atas dasar itulah, Al – Kindi berkesimpulan bahwa alam semesta ini pastilah terbatas dan Ia menolak secara tegas pandangan Aristoteles yang mengatakan bahwa alam semesta tidak terbatas atau kadim. 

  1. Filsafat Jiwa
Al – Kindi mengatakan bahwa jiwa adalah jauhar basith (tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dalam dan lebar). Jiwa mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Jiwa mempunyai wujud tersendiri, terpisah dan berbeda dengan jasad. Jiwa bersifat rohani dan ilahi. Argumen tentang bedanya jiwa dengan badan, menurut Al – Kindi adalah jiwa menentang keinginan hawa nafsu. Apabila nafsu marah mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, maka jiwa menentangnya.
Al – Kindi dalam tulisannya juga menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat tiga daya :
  1. Daya bernafsu (al – quwwat al – syahwaniyyat) yang terdapat di perut
  2. Daya marah (al – quwwat al –ghadabiyyat) yang terdapat di dada
  3. Daya pikir (al – quwwat al –‘aqliyyat) yang berpusat di kepala

    Menurut Al – Kindi, akal terbagi menjadi empat macam: 
    1. Akal yang selamanya dalam aktualitas (al – ‘aql allazi bi al – fil abada).
Akal ini berada diluar jiwa manusia, bersifat ilahi dan selamanya dalam aktualitas. Karena selalu ada dalam aktualitas, akal inilah yang membuat akal yang bersifat potensi dalam jiwa manusia menjadi aktual. Sifat – sifat akal ini ialah sebagai berikut:
  1. Ia adalah akal pertama
  2. Ia selamanya dalam aktualitas
  3. Ia merupakan species dan genus
  4. Ia membuat akal potensial menjadi aktual berpikir
  5. Ia tidak sama dengan akal potensial, tetapi lain daripadanya

  1. Akal yang bersifat potensial (al – ‘aql bi al – quwwat). Yakni akal murni yang ada dalam diri manusia yang masih merupakan potensi dan belum menerima bentuk – bentuk indrawi dan yang akali.
  2. Akal yang bersifat perolehan (acquired intellect). Ini adalah akal yang telah keluar dari potensialitas ke dalam aktualitas dan mulai memperlihatkan pemikiran abstraksinya.
  3. Akal yang berada dalam dalam keadaan aktual nyata, ketika Ia aktual, maka Ia disebut akal “Yang Kedua”.
Jiwa yang bersih setelah berpisah dengan badan pergi ke Alam Kebenaran atau Alam Akal. Diatas bintang – bintang di dalam lingkungan cahaya Allah, dekat dengan Allah dan dapat melihat – Nya. Disinilah letak kesenangan abadi dari jiwa. Hanya jiwa yang sucilah yang dapat sampai ke Alam Kebenaran itu, jiwa yang masih kotor dan belum bersih harus mengalami penyucian terlebih dahulu.

Sumber : Sirajuddin Zar.2004.Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya.Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar