- Sejarah Hidup dan Karyanya
Al – Kindi nama
lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’cub ibnu Ishaq ibnu Al – Ahabbah ibnu Imran ibnu
Muhammad ibnu Al – Asy’as ibnu Qais Al – Kindi. Al – Kindi dilahirkan di Kuffah
sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya terhormat. Kakek buyutnya Al –
Asy’as ibnu Qais adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang gugur sebagai syuhada
bersama Sa’ad ibnu Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum Muslimin dengan
Persia di Irak. Al – Kindi sangat tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu,oleh
karena itu tidaklah heran Ia dapat menguasai ilmu astronomi, ilmu ukur, ilmu
alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik, meteorologi, optika, kedokteran,
matematika, filsafat dan politik.
Penguasaannya
terhadap filsafat dan disiplin ilmu lainnya telah menempatkannya menjadi orang
Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para filosof terkemuka,
karena itulah dirinya pantas menyandang gelar Failasuf al – ‘Arab (
filosof berkebangsaan Arab).
- Karya Tulisnya
Sebagai
penerjemah terkemuka, tidaklah aneh sekiranya Ia mendapat penghargaan dari
Khalifah Al – Ma’mun yang terkenal cintanya pada filsafat dan sains. Menurut
informasi, Al – Ma’mun membayar siapa saja yang sanggup menerjmahkan buku –
buku ke dalam bahasa Arab dengan emas seberat buku yang diterjemahkan. Selain
itu ia juga termasuk seorang yang kreatif dan produktif dalam kegiatan tulis
menulis. Akan tetapi amat disayangkan kebanyakan karya tulisnya telah hilang
sehingga sulit menjelaskan berapa jumlah karya tulisnya.
Menurut
Georger Atiyeh, karya – karya tulis Al – Kindi dalam berbagai bidang ilmmu
pengetahuan mencapai 270 risalah. Risalah – risalah itu baik oleh Ibnu Nadim
maupun Qifthi dikelompokkan dalam 17 kelompok yaitu :
1.
Filsafat
2.
Logika
3.
Ilmu hitung
4.
Globular
5.
Musik
6.
Astronomi
7.
Geometri
8.
Sperikal
9.
Medis
10.
Astrologi
11.
Dialektika
12.
Psikologi
13.
Politik
14.
Meteorologi
15.
Dimensi
16.
Benda – benda pertama
17.
Spesies tertentu logam dan kimia
Untuk lebih
jelasnya dibawah ini dikemukakan beberapa karya tulis Al – Kindi:
- Fi al – falsafat al – Ula
- Kitab al – Hassi ‘ala Ta;allum al – Falsafat
- Risalat ila al – Ma’mun fi al – ‘illat wa Ma’lul
- Risalat fi Ta’lif al – A’dad
- Kitab al – Falsafat al – Dakhilat wa al – Masa’il al – Manthiqiyyat wa al – Mu’tashah wa ma Fauqa al – Thabi’iyyat
- Kammiyat Kutub Aristoteles
- Fi al – Nafs
- Pemaduan Filsafat dan Agama
Al – Kindi
berpendapat bahwa pemaduan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga
alasan yaitu:
- Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
- Wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian
- Menuntut ilmu, secara logika diperintahkan oleh agama
Al – Kindi juga
mengungkapkan argumennya kepada orang – orang agama yang tidak senang terhadap
filsafat dan filosof. Jika ada orang yang mengatakan bahwa filsafat tidak
perlu, mereka harus memberikan argumen dan menjelaskannya. Untuk sampai pada
yang dimaksud, secara logika mereka perlu memiliki pengetahuan filsafat.
Kesimpulannya bahwa filsafat harus dimiliki dan dipelajari.
Dalam
tulisannya Kammiyat Kutub Aristoteles, Al – Kindi mengemukakan beberapa
perbedaan filsafat dan agama sebagai berikut:
- Filsafat adalah ilmu kemanusiaan yang dicapai oleh filosof dengan berpikir, belajar dan usaha – usaha manusiawi. Sedangkan agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati peringkat tertinggi karena diperoleh tanpa proses belajar, berpikir dan usaha manusiawi, melainkan hanya dikhususkan bagi para rasul yang dipilih Allah dengan menyucikan jiwa mereka dan memberinya wahyu.
- Jawaban filsafat menunjukkan ketidakpastian (semu) dan memerlukan pemikiran. Sementara itu agama (alquran) jawabannya menunjukkan kepastian dan tidak memerlukan pemikiran.
- Filsafat menggunakan metode logika sedangkan agama menggunakan metode keimanan.
- Filsafat Ketuhanan
Tulisan Al –
Kindi yang membicarakan ketuhanan antara lain Fi al Falsafat al – Ula dan
Fi Wahdaniyyat Allah wa Tanahi Jirm al – ‘Alam. Dari tulisan tersebut
dapat dilihat bahwa pandangan Al – Kindi tentang ketuhanan sesuai dengan ajaran
Islam dan bertentangan dengan pendapat Aristoteles, Plato dan Plotinus.
Benda – benda
yang ada di alam ini menurut Al – Kindi mempunyai dua hakikat yaitu hakikat
sebagai juz’i (al – haqiqat jus’iyyat) yang disebut ‘aniah dan
hakikat sebagai kulli (al – haqiqat kulliyat) dan ini disebut mahiah,
yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus (jins) dan species
(nau’).
Dalam
membuktikan adanya Allah, Al – Kindi memajukan tiga argumen:
- Baharunya alam. Alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya yakni Allah.
- Keanekaragaman dalam wujud. Terjadinya keanekaragaman dan keseragaman ini bukan secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan atau merancangnya.
- Kerapian alam. Tidak mungkin alam teratur dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur atau mengendalikannya.
- Alam
Dalam
risalahnya yang berjudul al – Ibanat
‘an al – ‘ illat al – Fa’illat al – Qaribat fi kawn wa al – Fasad, pendapat
Al – Kindi sejalan dengan Aristoteles bahwa benda di alam ini dapat dikatakan
wujud yang aktual apabila terhimpun empat ‘illat yakni:
- Al – ‘Unshuriyyat (materi benda)
- Al – Shuriyyat (bentuk benda)
- Al – Fa’ilat (pembuat benda)
- Al – Tamamiyyat (manfaat benda)
Lebih lanjut,
Al – Kindi mengemukakan beberapa argumen dalam menetapkan baharunya alam :
- Semua benda yang homogen, yang tiada padanya lebih besar ketimbang yang lain, adalah sama besar.
- Jarak antara ujung – ujung dari benda yang sama besar, juga sama besarnya dalam aktualitas dan potensialitas.
- Benda – benda yang mempunyai batas tidak bisa tidak mempunyai batas.
- Jika salah satu dari dua benda yang sama besarnya dan homogen ditambah dengan homogen lainnya, maka keduanya menjadi tidak sama besar.
- Jika sebuah benda dikurangi, maka besar sisanya lebih kecil dari pada benda semula.
- Jika satu bagian diambil dari sebuah benda, lalu dipulihkan kembali kepadanya, maka hasilnya adalah benda yang sama seperti semula.
- Tiada dari dua benda homogen yang besarnya tidak mempunyai batas bisa lebih kecil ketimbang yang lain.
- Jika benda – benda yang homogen yang semuanya mempunyai batas ditambahkan bersama, maka jumlahnya juga akan terbatas.
Atas dasar
itulah, Al – Kindi berkesimpulan bahwa alam semesta ini pastilah terbatas dan
Ia menolak secara tegas pandangan Aristoteles yang mengatakan bahwa alam
semesta tidak terbatas atau kadim.
- Filsafat Jiwa
Al – Kindi
mengatakan bahwa jiwa adalah jauhar basith (tunggal, tidak tersusun,
tidak panjang, dalam dan lebar). Jiwa mempunyai arti penting, sempurna dan
mulia. Jiwa mempunyai wujud tersendiri, terpisah dan berbeda dengan jasad. Jiwa
bersifat rohani dan ilahi. Argumen tentang bedanya jiwa dengan badan, menurut
Al – Kindi adalah jiwa menentang keinginan hawa nafsu. Apabila nafsu marah
mendorong manusia untuk melakukan kejahatan, maka jiwa menentangnya.
Al – Kindi
dalam tulisannya juga menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat tiga daya :
- Daya bernafsu (al – quwwat al – syahwaniyyat) yang terdapat di perut
- Daya marah (al – quwwat al –ghadabiyyat) yang terdapat di dada
- Daya
pikir (al – quwwat al –‘aqliyyat) yang berpusat di kepala
Menurut Al – Kindi, akal terbagi menjadi empat macam:1. Akal yang selamanya dalam aktualitas (al – ‘aql allazi bi al – fil abada).
Akal ini berada
diluar jiwa manusia, bersifat ilahi dan selamanya dalam aktualitas. Karena
selalu ada dalam aktualitas, akal inilah yang membuat akal yang bersifat
potensi dalam jiwa manusia menjadi aktual. Sifat – sifat akal ini ialah sebagai
berikut:
- Ia adalah akal pertama
- Ia selamanya dalam aktualitas
- Ia merupakan species dan genus
- Ia membuat akal potensial menjadi aktual berpikir
- Ia tidak sama dengan akal potensial, tetapi lain daripadanya
- Akal yang bersifat potensial (al – ‘aql bi al – quwwat). Yakni akal murni yang ada dalam diri manusia yang masih merupakan potensi dan belum menerima bentuk – bentuk indrawi dan yang akali.
- Akal yang bersifat perolehan (acquired intellect). Ini adalah akal yang telah keluar dari potensialitas ke dalam aktualitas dan mulai memperlihatkan pemikiran abstraksinya.
- Akal yang berada dalam dalam keadaan aktual nyata, ketika Ia aktual, maka Ia disebut akal “Yang Kedua”.
Jiwa
yang bersih setelah berpisah dengan badan pergi ke Alam Kebenaran atau Alam
Akal. Diatas bintang – bintang di dalam lingkungan cahaya Allah, dekat dengan
Allah dan dapat melihat – Nya. Disinilah letak kesenangan abadi dari jiwa.
Hanya jiwa yang sucilah yang dapat sampai ke Alam Kebenaran itu, jiwa yang
masih kotor dan belum bersih harus mengalami penyucian terlebih dahulu.
Sumber :
Sirajuddin Zar.2004.Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya.Jakarta:PT.
Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar